Bagaimana Cara Memotivasi Orang Lain? Ini 4 Cara Ilmiah – Bag 1

Kita perlu tahu bagaimana cara memotivasi orang lain. Karena kadang orang-orang yang kita pedulikan mengalami kondisi rendah diri, mentok, tidak berani melangkah dan memerlukan bantuan. Bisa saja pasangan, anak, orangtua, murid, karyawan, bahkan atasan kita mengalami kondisi semacam ini. Tentu kita akan merasa hubungan yang kita bina dengan orang itu jadi tidak terlalu menyenangkan. Sehingga kita akan berusaha mencari bagaimana cara memotivasi orang lain.

Sayangnya tidak semua cara yang kita lakukan bisa membuat orang mendapatkan motivasi. Malahan bisa saja terjadi yang sebaliknya, yaitu orang yang akan dibantu makin merasa tertekan. Akibatnya orang itu mungkin akan semakin kehilangan motivasi dan melarikan diri dari masalah.

Masih ingat ancaman hukuman yang akan diberikan orangtua atau guru kita jika kita tidak melakukan sesuatu? Masih merasa termotivasi?

Seberapa penting motivasi dalam keberhasilan seseorang?

Motivasi sangat kuat pengaruhnya. Bahkan bisa mempengaruhi kesuksesan seseorang lebih dari kecerdasan, kemampuan, atau hadiah.

Seperti disampaikan dalam penelitian di Amerika Serikat tahun 1994

When tested in national surveys against such seemingly crucial factors as intelligence, ability, and salary, level of motivation proves to be a more significant component in predicting career success. While level of motivation is highly correlated with success, importantly, the source of motivation varies greatly among individuals and is unrelated to success. – Bashaw and Grant 1994

Lalu bagaimana cara memotivasi orang lain?

Menurut penelitian, ada empat hal yang secara ilmiah bisa kita lakukan untuk memotivasi orang lain.

  1. Berhenti memberikan hadiah
  2. Buat mereka mengerjakan dengan hati
  3. Tunjukkan adanya kemajuan
  4. Buat mereka jadi satu suku

Kita akan membahas 4 hal ini satu per satu. Mengapa 4 hal ini sangat efektif dalam memotivasi orang lain.

Berhenti Memberikan Hadiah

Kita terbiasa dengan konsep hadiah saat melakukan sesuatu. Sehingga kita juga terjebak untuk berusaha memberikan hadiah untuk memotivasi orang lain. Misalkan kita menjanjikan hadiah permen untuk anak supaya mau sekolah. Atau kita menjanjikan hadiah uang supaya orang mau membantu kita.

Seperti diungkapkan oleh Dan Pink dalam bukunya Drive dan sesi TED talk yang cukup inspiratif

Sayangnya dampak pemberian hadiah memiliki beberapa kekurangan.

  1. Dampak hadiah hanya sementara. Hadiah efektif jika kita menginginkan perubahan sementara atau tindakan yang hanya sekali saja. Misalnya kita menggunakan hadiah supaya seorang anak mau disunat (hanya sekali seumur hidup), maka kemungkinan hadiah akan berhasil. Tapi jika kita menginginkan perubahan dalam jangka waktu lama dan harus dilakukan sering maka hadiah tidak efektif.
  2. Hadiah berhenti motivasi berhenti. Jika hadiah dihentikan maka tindakan juga berhenti bahkan bisa membuat marah. Misalnya para pekerja mendapat hadiah berupa upah pada tanggal tertentu setiap bulan. Kira-kira apa yang akan terjadi jika pekerja tidak mendapat hadiahnya? Apakah besok masih mau masuk kerja? Contoh lain, seorang anak mendapatkan coklat setiap kali pulang sekolah. Kira-kira apa yang akan terjadi jika anak itu tidak mendapat hadiahnya? Apakah besok masih mau masuk sekolah?
  3. Untuk mendapat dampak yang sama, nilai hadiah harus semakin meningkat. Manusia memiliki rasa bosan, dan selalu berusaha meningkatkan standard hadiahnya. Misalnya para pekerja yang bekerja lebih lama akan merasa upahnya perlu dinaikkan tanpa merasa perlu meningkatkan hasil kerja. Seorang anak yang mendapat coklat yang sama setiap pulang sekolah, setelah beberapa tahun akan menuntut nilai hadiah yang semakin besar.
  4. Hadiah lebih cocok untuk pekerjaan tanpa berpikir. Menurut penelitian, hadiah memberikan motivasi yang besar pada pekerjaan tanpa melibatkan aktivitas berpikir mendalam. Maksudnya pekerjaan yang hasil kerjanya mudah diukur jumlahnya. Seperti pekerja pabrik, pekerja bangunan, petugas keamanan, kebersihan, dsb.  Semakin besar upah atau hadiah maka hasil kerjanya akan semakin banyak dan semakin baik. Tetapi pada pekerjaan yang melibatkan aktivitas berpikir mendalam seperti pekerja kreatif, analisis, koordinasi, dan komunikasi, malah menunjukkan hal yang sebaliknya.
  5. Rangsangan hadiah tidak selalu sebanding dengan peningkatan kualitas kerja. Memang benar hingga kadar tertentu semakin besar hadiah maka hasil juga semakin banyak. Tapi setelah melewati titik jenuh “critical point” justru semakin besar hadiah semakin rendah kualitas hasil kerjanya. Para peneliti menyepakati critical point itu terletak di atas kebutuhan minimal dan cukup banyak sehingga pekerja tidak lagi memikirkan kebutuhan. Tapi begitu juga jika hadiah berada di bawah titik itu maka pekerja tidak memiliki motivasi yang cukup untuk bertindak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *